bungajasmine

Wednesday, February 24, 2010

Rafflesia, Princess In The Jungle

Oleh : Ridha Mahyuni*)

Published: Buletin Jejak Leuser. Balai Besar TNGL. vol:4 No. 10.p: 11-13


Jika Singa dikenal sebagai raja hutan sejak dahulu kala hingga saat ini karena bentuk tubuhnya yang sangat menyeramkan, kebuasaannya, suara yang sangat khas yang bisa membuat orang lari ketakutan jika mendengarnya dan sepak terjang nya sebagai penguasa hutan, maka si merah yang sangat menawan ini adalah pantas disebut sebagai putri hutan. Walau dia tidak wangi semerbak bak melati yang wangi nya hingga menusuk hidung.
Cantik dan mempunyai bentuk yang eksotis itulah banyak tanggapan bagi banyak orang yang telah melihatnya. Itulah gambaran sekilas jika melihat Rafflesia saat tumbuh mekar dengan indahnya. Nama Rafflesia sudah cukup dikenal oleh banyak orang sebagai bunga bangkai tetapi tidak banyak orang yang telah melihat bunga yang terbesar di dunia ini. Rafflesia adalah tumbuhan langka yang telah ditetapkan sebagai puspa langka Indonesia yaitu tepatnya pada spesies Rafflesia arnoldii R.br. Rafflesia sebagai tumbuhan parasit yang bergantung sepenuhnya pada inangnya, yang mempunyai banyak keunikan yang luar biasa terutama hanya tersebar di wilayah Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand, tumbuhan ini juga mempunyai tidak mempunyai akar, batang dan daun. Rafflesia pada saat mekar mencapai lebih dari 1 meter dan dnegan berat mencapai lebih dari 7 kg (Davis et al 2007)
Untuk pertama kalinya Rafflesia di temukan di pulau Jawa pada tahun 1797 oleh Louis Auguste Deschamps (Nais 2001) seorang naturalis yang berkebangsaan Perancis yang pada waktu itu sedang melakukan eksplorasi di pulau Jawa. Rafflesia dari Bengkulu pertama kali di deskripsikan oleh William Jack dan mengirimkannya kepada Sir Stamford Raffles sebagai pengganti dari Dr. Joseph Arnold yang lebih dahulu meninggal karena penyakit malaria yang menyerangnya sesaat kembali ke Jawa bersama dengan Stamford Raffles. Sementara menunggu pengiriman spesimen Rafflesia ke British, William Jack membuat deskripsi Rafflesia itu yang diberi nama Rafflesia titan dan dipublikasikan dalam Appendix of Description of Malayan Plants pada tahun 1821. Cetakan ulang tulisannya itu dikirimkan kepada Robert Brown tertanggal 23 Mei 1821 tetapi sampai Robert Brown pada bulan Juli 1821. Walau begitu, nama Rafflesia titan Jack adalah nama yang lebih dulu daripada Rafflesia arnoldii walaupun nama Rafflesia titan juga diterima sebagai sinonim tetapi lebih dikenal dengan Rafflesia arnoldii (Susatya et al 2005). Rafflesia arnoldii didasari atas koleksi spesimen dari Arnold dan Raffles dari ekspedisi yang mereka lakukan pada tahun 1818 di Pulau Lebar, di perkampungan Sungai Manna bagian Bengkulu Selatan. Robert Brown yang telah mempublikasikan Rafflesia arnoldii untuk mengenang kedua penemunya itu pada tahun 1821.

Daur Hidup
Rafflesia apabila ditinjau dari daur hidupnya menghabiskan waktu empat hingga lima tahun untuk melengkapkan satu daur hidupnya (Nais 2004). Daur hidupnya diawali dengan biji benih selanjutnya biji benih ini akan berkembang menjadi tunas dan biasanya tunas bunga Rafflesia akan terlihat sebagai bonjolan sebesar ibu jari yang keluar dari batang atau akar tumbuhan inangnya. Tunas-tunas bunga ini akan berkembang dan matangnya yang menyerupai kol. Tunas memerlukan waktu selama enam bulan untuk matang dan bergantung pada spesiesnya. Setelah tunas bunga Rafflesia matang akan berkembang lagi menjadi bunga yang mekar dengan sempurna (Nais 2001). Biasanya bunga Rafflesia akan mekar selama 4-7 hari dan setelah itu akan hitam dan membusuk. Setelah beberapa hari mekar akan terjadi perkemcambahan untuk pembentukan biji kembali. Proses pembentukan buah akan menghasilkan biji dan proses ini akan berlangsung berterusan untuk pembentukan tunas bunga Rafflesia yang berikutnya. Biji Rafflesia juga disebarkan oleh tupai tanah (Tupaia tana) dan cencorot (Callosciurus notatus).
Sebagaimana sebagai tumbuhan parasit Rafflesia tidak dapat memproses makanannya sendiri melalui fotosintesis. Sebaliknya tumbuhan ini menyerap segala keperluan air, mineral dan makanan daripada inangnya. Rafflesia hidup sebagai parasit hanya pada tumbuhan spesies Tetrasitgma yaitu sejenis anggur-angguran liar dalam famili Vitaceae (Nais 2001). Rafflesia juga memerlukan hewan lain untuk membantu penyebukannya seperti lalat. Agen penyerbukan ini akan memasuki ruang bagian dalam yang mengeluarkan bau busuk. Kunjungan dari lalat ini akan menghasilkan suatu pendebungaan. Lalat ini akan membawa lendir dari alat kelamin jantan (anter) ke bagian ovari bunga betina. Namun, dalam proses penyerbukan ditemukan kesulitan disebabkan Rafflesia adalah tumbuhan diosesius yang mana organ jantan dan organ betina terdapat pada dua induvidu yang berlainan. Kemungkinan untuk menemui dua kuntum Rafflesia, yang satu jantan dan satu betina berdekatan amat kecil (Nais 2004). Sehingga Rafflesia juga disebut sebagai parasit ganda karena tidak membuat makanan sendiri melainkan mengambilnya dari inangnya dan tidak menyediakan untuk agen penyerbukan melainkan agen penyerbukan secara langsung mendatangi bunga yang lagi mekar karena bau yang khas yang berasal dari bunga Rafflesia yang mekar (Beaman et al 1998).
Rafflesia di Indonesia
Salah satu keunikan Rafflesia adalah yang hanya tersebar di wilayah Asia Tenggara, yang mana kawasan ini adalah daerah tropis. Untuk di Indonesia penyebaran Rafflesia hanya tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan dan pulau Jawa serta Bali. Indonesia mempunyai spesies Rafflesia terbanyak dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, yaitu sebanyak 12 spesies yang kesemuanya adalah endemik. Adapun spesies-spesies yang dimiliki Indonesia adalah sebagai berikut: Rafflesia arnoldii R.br, Rafflesia arnoldii var.atjhensis (Koord) Meijer, Rafflesia microphylora Meijer, Rafflesia patma Blume, Rafflesia rouchesenii Teisjman.&Binn, Rafflesia hasseltii Suringar, Rafflesia borneensis Koorder, Rafflesia ciliata Koorders, Rafflesia witkampii Koorders, Rafflesia zollingeriana Koorders, Rafflesia gadutensis Meijer, Rafflesia bengkuluensis Susatya,Arianto&Mat-Salleh.
Rafflesia di Taman Nasional
Rafflesia merupakan icon dari beberapa taman nasional maupun kawasan cagar alam yang di Indonesia, beberapa diantaranya adalah Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Batang Gadis, Cagar Alam Batang Palupuh, Cagar Alam Rimbo Panti, Hutan Lindung Ulu Gadut, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Taman Nasional Kerinci Seblat, Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Cagar Alam Luewung Sancang, Taman Nasional Meru Betiri. Rafflesia dapat dijadikan daya tarik bagi taman-taman nasional yang ada di Indonesia untuk menarik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.
Untuk kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang mana merupakan kawasan yang sangat dikenal memiliki tingkat keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi bahkan sudah diakui dalam dunia internasional. Penyebaran Rafflesia di kawasan taman nasional Gunung Leuser sangatlah beragam spesiesnya. Taman nasional Gunung Leuser yang luas wilayahnya meliputi dua provinsi yaitu Nangroe Aceh Darusalam dan Sumatera Utara. Untuk kawasan taman nasional Gunung Leuser pada bagian Aceh Tenggara telah ditemukan Rafflesia arnoldii di daerah Sungai Jernih, Lokop, Rafflesia arnoldii var.atjehensis juga dilaporkan telah ditemukan dari daerah Lokop (Meijer 1997). Rafflesia microphylora juga dilaporkan dapat ditemukan di kawasan Ketambe. Rafflesia rouchesenii telah ditemukan juga di daerah Berastagi.
Jadi, dengan banyaknya spesies Rafflesia yang telah ditemukan kawasan taman nasional Gunung Leuser hendaknya populasi-populasi Rafflesia ini benar-benar kita jaga dengan sebaik-baiknya baik itu dari pihak Departemen Kehutanan, masyarakat setempat maupun pengunjung yang melihat bunga Rafflesia. Untuk membudidayakan Rafflesia para peneliti sampai saat ini belum ada yang berhasil dengan sempurna, baik itu dengan cara ex situ mau pun in situ. Untuk itu satu populasi Rafflesia sangat berharga sekali bagi kelangsungan tumbuhan langka ini. Banyak sudah spesies Rafflesia yang terancam punah baik itu dikarenakan illegal logging, tumbangnya pohon-pohon yang ada di sekitar populasi Rafflesia, tunas-tunas Rafflesia yang dimakan oleh hewan, dan bahkan oleh ulah tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab baik dengan sengaja ataupun tidak.
Konservasi Rafflesia hendaklah dilakukan dengan serius dan dengan sebenar-benarnya karena tumbuhan langka ini juga merupakan aset bangsa yang akan menjadi kebanggaan kita sebagai rakyat indonesia. Tanggung jawab menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama, dengan sosialisasi kepada masyarakat setempat diharapkan populasi-populasi Rafflesia dapat dilindungi dan spesies Rafflesia dapat bertahan hinggga waktu yang akan datang.

Rujukan
Beaman, R.S,. Decker, P.J & Beaman J.H. 1998. Pollination of Rafflesia (Rafflesiaceae). American Journal of Botany 75(8): 1148-1162.
Davis, CC., Latvis, M., Nikcrent, D.L, Wurdack, K.J., Baum, D.A. 2007. Floral Gigantism in Rafflesiaceae. Science 315, Issue 5820,pp.
Nais, J. 2001. Rafflesia of The World. Kota Kinabalu: Sabah Park in Assosiation with Natural History Publicating (Borneo) Sdn, Bhd.
Nais, J. 2004. Rafflesia Bunga Terbesar di Dunia. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Meijer, W. 1997. Rafflesiaceae. Flora Malesiana. Ser.1 (13):1-42.
Susatya, A., Arianto, W & Mat-Salleh, K. 2005. Rafflesia bengkuluensis. (Rafflesiaceae) A new spesies from South Sumatera, Indonesia. Folia Malaysiana 6 (3&4):139-152.

Wednesday, June 10, 2009

Balanophora Parasit Yang Menawan

Tulisan ini telah dipublikasikan di Buletin Leuser Vol.4 N0.13 tahun 2008


Balanophora, namanya. Mungkin belum banyak orang yang mengenal tumbuhan parasit yang satu ini. Bentuknya yang lebih kecil dibandingkan dengan Rafflesia yang lebih dikenal sebagai bunga terbesar di dunia. Tumbuhan parasit ini, hanya terdiri dari kurang lebih 15 jenis saja yang tersebar di seluruh dunia. Penyebarannya meliputi wilayah tropikal Asia, kawasan Malesia, Pasific Islands, tropikal Australia,Tomores, Madagascar, dan Africa (Congo) (Hansen, 1976). Balanophora merupakan salah satu marga dari Balanophoraceae, dan marga lainnya seperti adalah Rhopalocnemis, Exorphopala, dan Langsdorffia.

Biasanya di masyarakat pada kawasan tertentu, tumbuhan ini dikenal dengan nama nama Prut atau Prut Tjantigi sebutan untuk tumbuhan inangnya, Perud Pangggang, dan Perud Ramo Giling. Balanophora merupakan tumbuhan yang sangat mudah hidup pada tumbuhan inang kebanyakan. Tercatat hampir 35 jenis tumbuhan yang merupakan inang dari tumbuhan parasit yang menawan ini, diantaranya adalah Carissa carandas (Apocynaceae), Ilex wigthtian (Aquifoliaceae), Euonymus crenulatus (Celastraceae), Albizia sp, Milletia sp (Leguminaceae), Pithecellobium sp, Ficus sp (Moraceae), Baringtonia asiatica (Lecythidaceae), Syzygium cuminii (Myrtaceae), Cissus sp, Tetrastigma sp (Vitaceae). Warna bunganya yang bervariasi mulai dari kuning keputihan hingga kuning, coklat, orange, merah hingga berwarna merah muda merupakan salah satu ciri yang membedakan jenis yang satu dengan yang lainnya. Parasit ini banyak ditemukan di kawasan pegunungan yang termasuk kawasan dataran tinggi.

Biologi Balanophora.

Balanophora merupakan tumbuhan parasit berstektur tebal/berdaging, dengan status berumah satu dan juga berumah dua. Maksudnya adalah ada jenis yang jantan terpisah dengan betina dan ada juga yang tergabung bersama-sama sekaligus. Tumbuhan yang dengan beraneka ragam bentuk ini tumbuh pada akar tumbuhan-tumbuhan inangnya. Rimpangnya kadang bercabang dan ada juga yang tidak bercabang. Permukaan bunganya licin dengan bintil-bintil sisik kecil dan adanya yang seperti lentisel yang berbentuk bintang. Daunnya tersusun berhadapan dan berseling atau berbentuk spiral yang melekat. Perbungaannya berbentuk silinder atau elips dan ada juga yang membulat. Bunga jantan yang melekat berbentuk huruf U. Tajuknya berjumlah 3-6 dengan bentuk membundar. Benang sari yang memanjang, anter yang beruang rangkap, biasanya jumlah tajuknya banyak. Untuk bunga betina Balanophora termasuk bunga yang berputik dan memiliki tangkai putik. Bakal buah menggelendong, dengan satu lokul, dengan menirus menuju kedua ujungnya, bakal biji yang anatrop, dengan tangkai yang pendek. Tangkai putik yang memanjang dan berkanjang serta dengan buah eksokorp.

Penyerbukan tumbuhan ini dibantu oleh beberapa serangga seperti semut, kecoak dan ngengat. Ini dibuktikan dengan ditemukannya butiran telur-telur ngengat pada bagian biji maupun bagian perbungaan. Adapun marga ngengat yang banyak dijumpai adalah dari marga Assarra dan Nacoleia. (Kawakita, A & Kato, M 2002).

Yang masih menjadi misteri hingga saat ini adalah, belum ada data yang menjelaskan bagaimana, Balanophora dapat hidup pada tubuh tumbuhan inangnya. Sama seperti kasus pada perkembang biakan hidup pada Rafflesia, hanya baru diketahui bahwa tubuh parasitnya memiliki benang-benang halus yang disebut houstorium dalam tubuh inangnya. Sementara, bagaimana terinfeksinya tumbuhan inang dari Balanophora merupakan masalah besar yang harus dipecahkan untuk penelitian yang akan datang.

Bagaimana mengenal jenis Balanophora?

Jenis-jenis Balanophora ada yang berumah satu dan ada juga yang berumah dua. Ciri ini merupakan ciri utama untuk membedakan jenis yang satu dengan jenis lainnya. Untuk Balanopbora abbreviata dicirikan dengan berumah satu, mahkota yang berwarna kuning keputih-putihan, umbinya tunggal tetapi ada juga beberapa yang bersama, umbi tunggal yang berbentuk mengerucut sungsang dari bagian dasar dan melebar pada bagian atasnya, daun yang berseling atau berderet, bunga jantan yang melekat, dan bunganya satu tangkup atau bisimetri. B.fungosa mempunyai ciri berumah satu, mahkotanya berwarna kuning hingga orange atau kuning kecoklatan, kadang-kadang ada juga yang sebagian yang berwana merah muda, umbinya tunggal dan bercabang pada bagian dasar, pada permukaan mahkota terdapat bintil yang berbentuk seperti bintang, bunganya terdiri dari banyak tangkup biasanya berjumlah 4-5, daunnya tersusun secara spiral, jarang yang berhadapan.

B. elongate dicirikan dengan berumah dua, mahkota berwarna merah kekuningan hingga merah kecoklatan, umbinya bercabang, dengan cabang tunggal yang memanjang, dengan perbungan yang mengerucut sungsang, terdapat bintil-bintil yang berbentuk bintang, daun yang membentuk spiral, menyirap, biasanya ukurannya bertambah lebar, dan ujungnya menumpul, B.papuana bercirikan berumah dua, berwarna kuning hingga orange kekuningan bahkan ada juga yang berwarna merah, umbinya bercabang, pada bagian mahkota terdapat bintil-bintil yang berbentuk bintang, batang yang berhadapan silang dan saling berpasangan, daun yang membundar berwarna merah hingga kuning, daunnya kebanyakan mempunyai ukuran yang sama, dan perbungaan dengan satu tangkup. B.lowii berumah dua, berwarna kuning hingga merah, umbinya selalu tunggal, banyak terdapat bintil-bintil yang berbentuk bintang, daun pada bagian dalam berwarna merah muda, berhadapan silang dan berbentuk membulat, jumlah daun akan bertambah seiring dengan bertambahnya ukuran, bunganya terdiri dari satu tangkup. B.lowii dibedakan dengan B.papuana dari ciri jumlah dari yang cenderung bertambah seiring dengan bertambahnya ukuran pada batang, dan berbeda pula dari B.elongata susunan daun yang berhadapan.

B. reflexa dengan ciri berumah dua, berwarna orange, merah hingga merah tua, umbinya ada beberapa yang tumbuh bersama, bercabang dari bagian dasar umbi tunggal, daunnya tersusun spiral, bunga betina biasanya terdiri dari satu tangkup atau bisimetrik, dan perbungan jantan berbentuk elips.


Kandungan Kimia

Tumbuhan parasit ini memiliki kandungan pigmen hijau yang sangat sedikit sekali. Yang menarik lagi dari Balanophora adalah memiliki kandungan lilin atau mengandung Balanophorin yang biasanya digunakan untuk membuat lilin kecil ataupun obor. Disebabkan oleh jenis tumbuhan ini jarang, lilin dan kandungan lilinnya tidak pernah diperdagangkan secara komersil. Jenis yang biasanya banyak mengandung Balanophorin adalah Balanophora fungosa ssp. indica var.gibbosa. B.elongata mengandung β-amrin palmit yang mana disertai juga dengan kandungan karet dalam jumlah kecil. Jenis lain seperti B.japonica yang mengandung ester β-amrin dan taraxasterol dan mungkin mengandung karet dalam jumlah yang cukup besar. Beberapa penelitian membuktikan bahwa Balanophoraceae kaya akan kandungan Fenolik dan tannin (Hansen 1976). Kandungan coniferin yang besar yang berasal dari isolasi dari salah satu jenis Balanophora di gunakan sebagai obat anti asma yang di gunakan oleh sebagian masyarakat di Thailand. (V. Podimuang; Hansen 1976).

Persebaran
Persebaran Balanophora di Indonesia menyebar di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan maupun Sulawesi.
Balanophora fungosa, B. fungosa ssp. fungosa, Balanophora ssp indica var. indica dapat ditemukan di Jawa Timur, Sulawesi, Sumatra. Khusus untuk Balanophora ssp var.globosa hanya dijumpai di Gunung Salak, Jawa Barat. B.elongata juga telah ditemukan di Cibodas, Gunung Gede, Jawa Barat. Jenis lainnya seperti B.papuana dapat dijumpai di kawasan Kalimantan dan Sulawesi serta B.latisepala dapat ditemukan di Sumatra, dan B.abbreviata di Maluku. Beberapa jenis berikut tersebar diluar wilayah Indonesia yaitu B. reflexa (Serawak, Pahang), B.lowii (Gunung Kinabalu), B.hongkongensis (Hongkong), B.hansenii (Semenanjung Malaysia), B.laxiflora (Taiwan), dan B. wrightii (Jepang dan Taiwan). Ekspedisi Mogea et al 1980, berhasil mengkoleksi Balanophora sp dari Taman Nasional Gunung Leuser, di bagian barat daya Kuta Cane, di sebelah barat sungai Alas tepatnya di kawasan Biak Mentelang.

Walaupun Balanophora ini belum dikategorikan sebagai tumbuhan langka, tapi keberadaan populasi tumbuhnya harus tetap dijaga. Usaha konservasi dan pencegahan terhadap illegal logging maupun ulah tangan manusia yang mengganggu keberadaan populasinya harus diantisipasi dengan baik. Keberadaan populasi-populasi Balanophora merupakan asset Biodiversitas kita, dan kita pula yang harus menjaganya.

*Peneliti LIPI
Herbarium Bogoriense.


Daftar Pustaka
Hansen, B. 1876. Balanophoraceae. Flora Malesiana. Series I. Vol. 7:783-804
Kawakita, A & Kato, M. 2002. Floral Biology And Unique Pollination System of Root Holoparasites,
B. TOBIRACOLA (Balanophoraceae). American Journal of Botany Vol: 89(7):1164-1170.
Mogea, J.P, Burhan, A.L. Ma’roef, A. 1980. Laporan Perjalanan Ekspedisi Botani Ke Kuta Cane, Aceh Tenggara ( 7 Februari-7 Maret 1980). Herbarium Bogoriense [mimeograph]..

Monday, September 22, 2008

Ekspedition TNBBS 2008....



Expedition to South Bukit Barisan National Park.
Last July 2008, i had been chance to joined with expedition team of Reseach Center for Biology (Herbarium Bogoriense).This is my first expedition with my colleagues. it is the real expedition, because during 2 weeks we stayed in there. before this, i never to that stayed in the jungle in long time.
It was interesting experience. Our activities was collected specimens, from morning until afternoon. walking to looking for plants with flowers and fruits.
Team of Reseach center for Biology

The last day, i found immature Rafflesia, unfortunately i couldn't wait until it was blooming. i made me very sad. I wished, the next day i can find Rafflesia blooming in there. According Meijer (1997) that this site recorded R.patma. But, based on photograph from official of TNBBS that it was not same with R.patma. Hopely, i will back there.


Monday, October 16, 2006

Rafflesia Hunter?


My major project is about Rafflesia in North Sumatera Indonesia. I am interest with it because it really is unique flower and Rafflesia is biggest flower in the world. Last time, i don't know about this Rafflesia but now, i enjoying this project. As Rafflesia hunter, me and friends in Gank Rafflesia working hard to get it. Gank Rafflesia almost every week to come in the Jungle.Jungle is our friends in reseaching of Rafflesia. Our project is about Rafflesia distributed to Penisular Malaysia and Indonesia.
Do you want to join with our gank? searching...

www.rafflesia-in-bloom.blogspot.com

Sunday, October 15, 2006

Links info

www.google.com
www.sciencedirect.com
www.sperlink.com