Rafflesia, Princess In The Jungle
Oleh : Ridha Mahyuni*)
Published: Buletin Jejak Leuser. Balai Besar TNGL. vol:4 No. 10.p: 11-13
Jika Singa dikenal sebagai raja hutan sejak dahulu kala hingga saat ini karena bentuk tubuhnya yang sangat menyeramkan, kebuasaannya, suara yang sangat khas yang bisa membuat orang lari ketakutan jika mendengarnya dan sepak terjang nya sebagai penguasa hutan, maka si merah yang sangat menawan ini adalah pantas disebut sebagai putri hutan. Walau dia tidak wangi semerbak bak melati yang wangi nya hingga menusuk hidung.
Cantik dan mempunyai bentuk yang eksotis itulah banyak tanggapan bagi banyak orang yang telah melihatnya. Itulah gambaran sekilas jika melihat Rafflesia saat tumbuh mekar dengan indahnya. Nama Rafflesia sudah cukup dikenal oleh banyak orang sebagai bunga bangkai tetapi tidak banyak orang yang telah melihat bunga yang terbesar di dunia ini. Rafflesia adalah tumbuhan langka yang telah ditetapkan sebagai puspa langka Indonesia yaitu tepatnya pada spesies Rafflesia arnoldii R.br. Rafflesia sebagai tumbuhan parasit yang bergantung sepenuhnya pada inangnya, yang mempunyai banyak keunikan yang luar biasa terutama hanya tersebar di wilayah Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand, tumbuhan ini juga mempunyai tidak mempunyai akar, batang dan daun. Rafflesia pada saat mekar mencapai lebih dari 1 meter dan dnegan berat mencapai lebih dari 7 kg (Davis et al 2007)
Untuk pertama kalinya Rafflesia di temukan di pulau Jawa pada tahun 1797 oleh Louis Auguste Deschamps (Nais 2001) seorang naturalis yang berkebangsaan Perancis yang pada waktu itu sedang melakukan eksplorasi di pulau Jawa. Rafflesia dari Bengkulu pertama kali di deskripsikan oleh William Jack dan mengirimkannya kepada Sir Stamford Raffles sebagai pengganti dari Dr. Joseph Arnold yang lebih dahulu meninggal karena penyakit malaria yang menyerangnya sesaat kembali ke Jawa bersama dengan Stamford Raffles. Sementara menunggu pengiriman spesimen Rafflesia ke British, William Jack membuat deskripsi Rafflesia itu yang diberi nama Rafflesia titan dan dipublikasikan dalam Appendix of Description of Malayan Plants pada tahun 1821. Cetakan ulang tulisannya itu dikirimkan kepada Robert Brown tertanggal 23 Mei 1821 tetapi sampai Robert Brown pada bulan Juli 1821. Walau begitu, nama Rafflesia titan Jack adalah nama yang lebih dulu daripada Rafflesia arnoldii walaupun nama Rafflesia titan juga diterima sebagai sinonim tetapi lebih dikenal dengan Rafflesia arnoldii (Susatya et al 2005). Rafflesia arnoldii didasari atas koleksi spesimen dari Arnold dan Raffles dari ekspedisi yang mereka lakukan pada tahun 1818 di Pulau Lebar, di perkampungan Sungai Manna bagian Bengkulu Selatan. Robert Brown yang telah mempublikasikan Rafflesia arnoldii untuk mengenang kedua penemunya itu pada tahun 1821.
Daur Hidup
Rafflesia apabila ditinjau dari daur hidupnya menghabiskan waktu empat hingga lima tahun untuk melengkapkan satu daur hidupnya (Nais 2004). Daur hidupnya diawali dengan biji benih selanjutnya biji benih ini akan berkembang menjadi tunas dan biasanya tunas bunga Rafflesia akan terlihat sebagai bonjolan sebesar ibu jari yang keluar dari batang atau akar tumbuhan inangnya. Tunas-tunas bunga ini akan berkembang dan matangnya yang menyerupai kol. Tunas memerlukan waktu selama enam bulan untuk matang dan bergantung pada spesiesnya. Setelah tunas bunga Rafflesia matang akan berkembang lagi menjadi bunga yang mekar dengan sempurna (Nais 2001). Biasanya bunga Rafflesia akan mekar selama 4-7 hari dan setelah itu akan hitam dan membusuk. Setelah beberapa hari mekar akan terjadi perkemcambahan untuk pembentukan biji kembali. Proses pembentukan buah akan menghasilkan biji dan proses ini akan berlangsung berterusan untuk pembentukan tunas bunga Rafflesia yang berikutnya. Biji Rafflesia juga disebarkan oleh tupai tanah (Tupaia tana) dan cencorot (Callosciurus notatus).
Sebagaimana sebagai tumbuhan parasit Rafflesia tidak dapat memproses makanannya sendiri melalui fotosintesis. Sebaliknya tumbuhan ini menyerap segala keperluan air, mineral dan makanan daripada inangnya. Rafflesia hidup sebagai parasit hanya pada tumbuhan spesies Tetrasitgma yaitu sejenis anggur-angguran liar dalam famili Vitaceae (Nais 2001). Rafflesia juga memerlukan hewan lain untuk membantu penyebukannya seperti lalat. Agen penyerbukan ini akan memasuki ruang bagian dalam yang mengeluarkan bau busuk. Kunjungan dari lalat ini akan menghasilkan suatu pendebungaan. Lalat ini akan membawa lendir dari alat kelamin jantan (anter) ke bagian ovari bunga betina. Namun, dalam proses penyerbukan ditemukan kesulitan disebabkan Rafflesia adalah tumbuhan diosesius yang mana organ jantan dan organ betina terdapat pada dua induvidu yang berlainan. Kemungkinan untuk menemui dua kuntum Rafflesia, yang satu jantan dan satu betina berdekatan amat kecil (Nais 2004). Sehingga Rafflesia juga disebut sebagai parasit ganda karena tidak membuat makanan sendiri melainkan mengambilnya dari inangnya dan tidak menyediakan untuk agen penyerbukan melainkan agen penyerbukan secara langsung mendatangi bunga yang lagi mekar karena bau yang khas yang berasal dari bunga Rafflesia yang mekar (Beaman et al 1998).
Rafflesia di Indonesia
Salah satu keunikan Rafflesia adalah yang hanya tersebar di wilayah Asia Tenggara, yang mana kawasan ini adalah daerah tropis. Untuk di Indonesia penyebaran Rafflesia hanya tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan dan pulau Jawa serta Bali. Indonesia mempunyai spesies Rafflesia terbanyak dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, yaitu sebanyak 12 spesies yang kesemuanya adalah endemik. Adapun spesies-spesies yang dimiliki Indonesia adalah sebagai berikut: Rafflesia arnoldii R.br, Rafflesia arnoldii var.atjhensis (Koord) Meijer, Rafflesia microphylora Meijer, Rafflesia patma Blume, Rafflesia rouchesenii Teisjman.&Binn, Rafflesia hasseltii Suringar, Rafflesia borneensis Koorder, Rafflesia ciliata Koorders, Rafflesia witkampii Koorders, Rafflesia zollingeriana Koorders, Rafflesia gadutensis Meijer, Rafflesia bengkuluensis Susatya,Arianto&Mat-Salleh.
Rafflesia di Taman Nasional
Rafflesia merupakan icon dari beberapa taman nasional maupun kawasan cagar alam yang di Indonesia, beberapa diantaranya adalah Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Batang Gadis, Cagar Alam Batang Palupuh, Cagar Alam Rimbo Panti, Hutan Lindung Ulu Gadut, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Taman Nasional Kerinci Seblat, Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Cagar Alam Luewung Sancang, Taman Nasional Meru Betiri. Rafflesia dapat dijadikan daya tarik bagi taman-taman nasional yang ada di Indonesia untuk menarik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.
Untuk kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang mana merupakan kawasan yang sangat dikenal memiliki tingkat keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi bahkan sudah diakui dalam dunia internasional. Penyebaran Rafflesia di kawasan taman nasional Gunung Leuser sangatlah beragam spesiesnya. Taman nasional Gunung Leuser yang luas wilayahnya meliputi dua provinsi yaitu Nangroe Aceh Darusalam dan Sumatera Utara. Untuk kawasan taman nasional Gunung Leuser pada bagian Aceh Tenggara telah ditemukan Rafflesia arnoldii di daerah Sungai Jernih, Lokop, Rafflesia arnoldii var.atjehensis juga dilaporkan telah ditemukan dari daerah Lokop (Meijer 1997). Rafflesia microphylora juga dilaporkan dapat ditemukan di kawasan Ketambe. Rafflesia rouchesenii telah ditemukan juga di daerah Berastagi.
Jadi, dengan banyaknya spesies Rafflesia yang telah ditemukan kawasan taman nasional Gunung Leuser hendaknya populasi-populasi Rafflesia ini benar-benar kita jaga dengan sebaik-baiknya baik itu dari pihak Departemen Kehutanan, masyarakat setempat maupun pengunjung yang melihat bunga Rafflesia. Untuk membudidayakan Rafflesia para peneliti sampai saat ini belum ada yang berhasil dengan sempurna, baik itu dengan cara ex situ mau pun in situ. Untuk itu satu populasi Rafflesia sangat berharga sekali bagi kelangsungan tumbuhan langka ini. Banyak sudah spesies Rafflesia yang terancam punah baik itu dikarenakan illegal logging, tumbangnya pohon-pohon yang ada di sekitar populasi Rafflesia, tunas-tunas Rafflesia yang dimakan oleh hewan, dan bahkan oleh ulah tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab baik dengan sengaja ataupun tidak.
Konservasi Rafflesia hendaklah dilakukan dengan serius dan dengan sebenar-benarnya karena tumbuhan langka ini juga merupakan aset bangsa yang akan menjadi kebanggaan kita sebagai rakyat indonesia. Tanggung jawab menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama, dengan sosialisasi kepada masyarakat setempat diharapkan populasi-populasi Rafflesia dapat dilindungi dan spesies Rafflesia dapat bertahan hinggga waktu yang akan datang.
Rujukan
Beaman, R.S,. Decker, P.J & Beaman J.H. 1998. Pollination of Rafflesia (Rafflesiaceae). American Journal of Botany 75(8): 1148-1162.
Davis, CC., Latvis, M., Nikcrent, D.L, Wurdack, K.J., Baum, D.A. 2007. Floral Gigantism in Rafflesiaceae. Science 315, Issue 5820,pp.
Nais, J. 2001. Rafflesia of The World. Kota Kinabalu: Sabah Park in Assosiation with Natural History Publicating (Borneo) Sdn, Bhd.
Nais, J. 2004. Rafflesia Bunga Terbesar di Dunia. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Meijer, W. 1997. Rafflesiaceae. Flora Malesiana. Ser.1 (13):1-42.
Susatya, A., Arianto, W & Mat-Salleh, K. 2005. Rafflesia bengkuluensis. (Rafflesiaceae) A new spesies from South Sumatera, Indonesia. Folia Malaysiana 6 (3&4):139-152.
Published: Buletin Jejak Leuser. Balai Besar TNGL. vol:4 No. 10.p: 11-13
Jika Singa dikenal sebagai raja hutan sejak dahulu kala hingga saat ini karena bentuk tubuhnya yang sangat menyeramkan, kebuasaannya, suara yang sangat khas yang bisa membuat orang lari ketakutan jika mendengarnya dan sepak terjang nya sebagai penguasa hutan, maka si merah yang sangat menawan ini adalah pantas disebut sebagai putri hutan. Walau dia tidak wangi semerbak bak melati yang wangi nya hingga menusuk hidung.
Cantik dan mempunyai bentuk yang eksotis itulah banyak tanggapan bagi banyak orang yang telah melihatnya. Itulah gambaran sekilas jika melihat Rafflesia saat tumbuh mekar dengan indahnya. Nama Rafflesia sudah cukup dikenal oleh banyak orang sebagai bunga bangkai tetapi tidak banyak orang yang telah melihat bunga yang terbesar di dunia ini. Rafflesia adalah tumbuhan langka yang telah ditetapkan sebagai puspa langka Indonesia yaitu tepatnya pada spesies Rafflesia arnoldii R.br. Rafflesia sebagai tumbuhan parasit yang bergantung sepenuhnya pada inangnya, yang mempunyai banyak keunikan yang luar biasa terutama hanya tersebar di wilayah Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand, tumbuhan ini juga mempunyai tidak mempunyai akar, batang dan daun. Rafflesia pada saat mekar mencapai lebih dari 1 meter dan dnegan berat mencapai lebih dari 7 kg (Davis et al 2007)
Untuk pertama kalinya Rafflesia di temukan di pulau Jawa pada tahun 1797 oleh Louis Auguste Deschamps (Nais 2001) seorang naturalis yang berkebangsaan Perancis yang pada waktu itu sedang melakukan eksplorasi di pulau Jawa. Rafflesia dari Bengkulu pertama kali di deskripsikan oleh William Jack dan mengirimkannya kepada Sir Stamford Raffles sebagai pengganti dari Dr. Joseph Arnold yang lebih dahulu meninggal karena penyakit malaria yang menyerangnya sesaat kembali ke Jawa bersama dengan Stamford Raffles. Sementara menunggu pengiriman spesimen Rafflesia ke British, William Jack membuat deskripsi Rafflesia itu yang diberi nama Rafflesia titan dan dipublikasikan dalam Appendix of Description of Malayan Plants pada tahun 1821. Cetakan ulang tulisannya itu dikirimkan kepada Robert Brown tertanggal 23 Mei 1821 tetapi sampai Robert Brown pada bulan Juli 1821. Walau begitu, nama Rafflesia titan Jack adalah nama yang lebih dulu daripada Rafflesia arnoldii walaupun nama Rafflesia titan juga diterima sebagai sinonim tetapi lebih dikenal dengan Rafflesia arnoldii (Susatya et al 2005). Rafflesia arnoldii didasari atas koleksi spesimen dari Arnold dan Raffles dari ekspedisi yang mereka lakukan pada tahun 1818 di Pulau Lebar, di perkampungan Sungai Manna bagian Bengkulu Selatan. Robert Brown yang telah mempublikasikan Rafflesia arnoldii untuk mengenang kedua penemunya itu pada tahun 1821.
Daur Hidup
Rafflesia apabila ditinjau dari daur hidupnya menghabiskan waktu empat hingga lima tahun untuk melengkapkan satu daur hidupnya (Nais 2004). Daur hidupnya diawali dengan biji benih selanjutnya biji benih ini akan berkembang menjadi tunas dan biasanya tunas bunga Rafflesia akan terlihat sebagai bonjolan sebesar ibu jari yang keluar dari batang atau akar tumbuhan inangnya. Tunas-tunas bunga ini akan berkembang dan matangnya yang menyerupai kol. Tunas memerlukan waktu selama enam bulan untuk matang dan bergantung pada spesiesnya. Setelah tunas bunga Rafflesia matang akan berkembang lagi menjadi bunga yang mekar dengan sempurna (Nais 2001). Biasanya bunga Rafflesia akan mekar selama 4-7 hari dan setelah itu akan hitam dan membusuk. Setelah beberapa hari mekar akan terjadi perkemcambahan untuk pembentukan biji kembali. Proses pembentukan buah akan menghasilkan biji dan proses ini akan berlangsung berterusan untuk pembentukan tunas bunga Rafflesia yang berikutnya. Biji Rafflesia juga disebarkan oleh tupai tanah (Tupaia tana) dan cencorot (Callosciurus notatus).
Sebagaimana sebagai tumbuhan parasit Rafflesia tidak dapat memproses makanannya sendiri melalui fotosintesis. Sebaliknya tumbuhan ini menyerap segala keperluan air, mineral dan makanan daripada inangnya. Rafflesia hidup sebagai parasit hanya pada tumbuhan spesies Tetrasitgma yaitu sejenis anggur-angguran liar dalam famili Vitaceae (Nais 2001). Rafflesia juga memerlukan hewan lain untuk membantu penyebukannya seperti lalat. Agen penyerbukan ini akan memasuki ruang bagian dalam yang mengeluarkan bau busuk. Kunjungan dari lalat ini akan menghasilkan suatu pendebungaan. Lalat ini akan membawa lendir dari alat kelamin jantan (anter) ke bagian ovari bunga betina. Namun, dalam proses penyerbukan ditemukan kesulitan disebabkan Rafflesia adalah tumbuhan diosesius yang mana organ jantan dan organ betina terdapat pada dua induvidu yang berlainan. Kemungkinan untuk menemui dua kuntum Rafflesia, yang satu jantan dan satu betina berdekatan amat kecil (Nais 2004). Sehingga Rafflesia juga disebut sebagai parasit ganda karena tidak membuat makanan sendiri melainkan mengambilnya dari inangnya dan tidak menyediakan untuk agen penyerbukan melainkan agen penyerbukan secara langsung mendatangi bunga yang lagi mekar karena bau yang khas yang berasal dari bunga Rafflesia yang mekar (Beaman et al 1998).
Rafflesia di Indonesia
Salah satu keunikan Rafflesia adalah yang hanya tersebar di wilayah Asia Tenggara, yang mana kawasan ini adalah daerah tropis. Untuk di Indonesia penyebaran Rafflesia hanya tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan dan pulau Jawa serta Bali. Indonesia mempunyai spesies Rafflesia terbanyak dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, yaitu sebanyak 12 spesies yang kesemuanya adalah endemik. Adapun spesies-spesies yang dimiliki Indonesia adalah sebagai berikut: Rafflesia arnoldii R.br, Rafflesia arnoldii var.atjhensis (Koord) Meijer, Rafflesia microphylora Meijer, Rafflesia patma Blume, Rafflesia rouchesenii Teisjman.&Binn, Rafflesia hasseltii Suringar, Rafflesia borneensis Koorder, Rafflesia ciliata Koorders, Rafflesia witkampii Koorders, Rafflesia zollingeriana Koorders, Rafflesia gadutensis Meijer, Rafflesia bengkuluensis Susatya,Arianto&Mat-Salleh.
Rafflesia di Taman Nasional
Rafflesia merupakan icon dari beberapa taman nasional maupun kawasan cagar alam yang di Indonesia, beberapa diantaranya adalah Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Batang Gadis, Cagar Alam Batang Palupuh, Cagar Alam Rimbo Panti, Hutan Lindung Ulu Gadut, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Taman Nasional Kerinci Seblat, Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Cagar Alam Luewung Sancang, Taman Nasional Meru Betiri. Rafflesia dapat dijadikan daya tarik bagi taman-taman nasional yang ada di Indonesia untuk menarik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.
Untuk kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang mana merupakan kawasan yang sangat dikenal memiliki tingkat keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi bahkan sudah diakui dalam dunia internasional. Penyebaran Rafflesia di kawasan taman nasional Gunung Leuser sangatlah beragam spesiesnya. Taman nasional Gunung Leuser yang luas wilayahnya meliputi dua provinsi yaitu Nangroe Aceh Darusalam dan Sumatera Utara. Untuk kawasan taman nasional Gunung Leuser pada bagian Aceh Tenggara telah ditemukan Rafflesia arnoldii di daerah Sungai Jernih, Lokop, Rafflesia arnoldii var.atjehensis juga dilaporkan telah ditemukan dari daerah Lokop (Meijer 1997). Rafflesia microphylora juga dilaporkan dapat ditemukan di kawasan Ketambe. Rafflesia rouchesenii telah ditemukan juga di daerah Berastagi.
Jadi, dengan banyaknya spesies Rafflesia yang telah ditemukan kawasan taman nasional Gunung Leuser hendaknya populasi-populasi Rafflesia ini benar-benar kita jaga dengan sebaik-baiknya baik itu dari pihak Departemen Kehutanan, masyarakat setempat maupun pengunjung yang melihat bunga Rafflesia. Untuk membudidayakan Rafflesia para peneliti sampai saat ini belum ada yang berhasil dengan sempurna, baik itu dengan cara ex situ mau pun in situ. Untuk itu satu populasi Rafflesia sangat berharga sekali bagi kelangsungan tumbuhan langka ini. Banyak sudah spesies Rafflesia yang terancam punah baik itu dikarenakan illegal logging, tumbangnya pohon-pohon yang ada di sekitar populasi Rafflesia, tunas-tunas Rafflesia yang dimakan oleh hewan, dan bahkan oleh ulah tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab baik dengan sengaja ataupun tidak.
Konservasi Rafflesia hendaklah dilakukan dengan serius dan dengan sebenar-benarnya karena tumbuhan langka ini juga merupakan aset bangsa yang akan menjadi kebanggaan kita sebagai rakyat indonesia. Tanggung jawab menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama, dengan sosialisasi kepada masyarakat setempat diharapkan populasi-populasi Rafflesia dapat dilindungi dan spesies Rafflesia dapat bertahan hinggga waktu yang akan datang.
Rujukan
Beaman, R.S,. Decker, P.J & Beaman J.H. 1998. Pollination of Rafflesia (Rafflesiaceae). American Journal of Botany 75(8): 1148-1162.
Davis, CC., Latvis, M., Nikcrent, D.L, Wurdack, K.J., Baum, D.A. 2007. Floral Gigantism in Rafflesiaceae. Science 315, Issue 5820,pp.
Nais, J. 2001. Rafflesia of The World. Kota Kinabalu: Sabah Park in Assosiation with Natural History Publicating (Borneo) Sdn, Bhd.
Nais, J. 2004. Rafflesia Bunga Terbesar di Dunia. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Meijer, W. 1997. Rafflesiaceae. Flora Malesiana. Ser.1 (13):1-42.
Susatya, A., Arianto, W & Mat-Salleh, K. 2005. Rafflesia bengkuluensis. (Rafflesiaceae) A new spesies from South Sumatera, Indonesia. Folia Malaysiana 6 (3&4):139-152.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home